Fenomena Polyworking: Gaya Gen Z Cari Cuan, Ini Cara dan Penjelasannya

Fenomena Polyworking: Gaya Gen Z Cari Cuan, Ini Cara dan Penjelasannya

Fenomena Polyworking: Gaya Gen Z Cari Cuan, Ini Cara dan Penjelasannya-istimewa-dokumen

RASELNEWS.COM – Kabar heboh. Di tengah perubahan lanskap dunia kerja yang kian dinamis, muncul sebuah fenomena baru yang semakin akrab di kalangan pekerja modern: polyworking.

Istilah ini merujuk pada praktik menjalani lebih dari satu pekerjaan secara bersamaan, baik dalam bentuk pekerjaan tetap, paruh waktu, proyek lepas (freelance), maupun usaha mandiri.

polyworking bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari pergeseran cara pandang masyarakat terhadap karier, pendapatan, dan keseimbangan hidup.

BACA JUGA:Mutasi Pejabat Seluma: Almedian Saleh Jabat Sekwan, Rudi Syawaludin 'Diparkir'

Fenomena polyworking atau menjalani lebih dari satu pekerjaan dalam waktu bersamaan semakin jamak ditemui di kalangan pekerja muda, terutama generasi Z.

Tren ini mencerminkan perubahan pola kerja sekaligus menjadi sinyal adanya tekanan ekonomi yang dirasakan kelompok usia produktif di Indonesia.

Faktor utama yang mendorong maraknya polyworking adalah ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Kenaikan biaya hidup, mulai dari kebutuhan pokok, transportasi, hingga hunian, dinilai tidak diiringi dengan peningkatan pendapatan yang memadai.

BACA JUGA:Bupati Rifa'i Tajudin Lantik 1.187 PPPK Paruh Waktu Bengkulu Selatan, Ini Pesannya

Akibatnya, satu pekerjaan sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kondisi tersebut membuat banyak pekerja muda mencari penghasilan tambahan melalui pekerjaan sampingan.

Ada yang bekerja paruh waktu di luar jam kerja utama, ada pula yang menjalani profesi berbeda secara bersamaan, seperti menjadi pekerja kantoran sekaligus freelancer, pelaku usaha daring, atau pekerja kreatif.

Polyworking pun menjadi strategi adaptif untuk menjaga kestabilan finansial di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan.
Fenomena ini juga menunjukkan adanya tekanan struktural di pasar tenaga kerja.

Di satu sisi, peluang kerja memang semakin beragam berkat perkembangan teknologi dan ekonomi digital.

BACA JUGA:Bupati Bengkulu Selatan Lantik Sekda dan 7 Pejabat Eselon II, Ini Daftarnya

Namun di sisi lain, tingkat upah di sejumlah sektor masih relatif rendah dan belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan hidup, khususnya di wilayah perkotaan.
Bagi generasi Z yang berada pada fase awal karier, kondisi ini terasa semakin berat.

Selain faktor ekonomi, polyworking juga dipengaruhi oleh perubahan pola pikir generasi muda terhadap pekerjaan.
Banyak pekerja muda yang tidak lagi bergantung pada satu sumber pendapatan dan memilih membangun portofolio kerja yang lebih fleksibel.

Meski demikian, Indef mengingatkan bahwa polyworking yang didorong oleh keterpaksaan ekonomi berbeda dengan polyworking yang dilakukan atas dasar pengembangan diri atau peluang karier.

BACA JUGA:5 Shio Ini Berkantong Tebal di Tahun 2026, Rezeki Terus Mengalir Kesehatan Prima

Di balik manfaat finansial jangka pendek, polyworking juga menyimpan risiko. Beban kerja yang berlebihan berpotensi memicu kelelahan fisik dan mental, menurunkan produktivitas, hingga berdampak pada kesehatan jangka panjang.

Tanpa pengelolaan waktu dan energi yang baik, pekerja muda bisa terjebak dalam siklus kerja yang tidak berkelanjutan.

Indef menilai, fenomena polyworking seharusnya menjadi perhatian serius bagi para pemangku kebijakan. Perbaikan kualitas lapangan kerja, peningkatan upah yang layak, serta penguatan jaring pengaman sosial dinilai penting untuk mengurangi tekanan ekonomi pada pekerja muda.

Selain itu, perlindungan terhadap pekerja dengan pola kerja fleksibel juga perlu diperkuat agar mereka tetap memiliki jaminan kesejahteraan.

BACA JUGA:Waspada Jebakan Cinta Palsu, OJK Sudah Terima 3.494 Aduan Love Scam, Kerugian Tembus Rp49 Miliar

Ke depan, polyworking kemungkinan masih akan menjadi bagian dari dinamika dunia kerja.
Namun, tantangan utama adalah memastikan bahwa fenomena ini tidak menjadi simbol ketimpangan ekonomi, melainkan pilihan yang sehat dan produktif bagi pekerja muda dalam membangun masa depan mereka.

Faktor Utama yang Mendorong Polyworking

1. Tekanan ekonomi.

Kenaikan biaya hidup, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi membuat satu sumber pendapatan dirasa tidak lagi aman. Polyworking menjadi strategi bertahan sekaligus upaya memperkuat stabilitas finansial.

2. Keinginan akan diversifikasi karier. Banyak pekerja merasa satu pekerjaan tidak cukup untuk menyalurkan minat, bakat, dan potensi diri. Dengan polyworking, seseorang bisa mengeksplorasi berbagai bidang sekaligus.

3. Perubahan nilai generasi muda terhadap pekerjaan. Generasi milenial dan Gen Z cenderung tidak lagi terpaku pada konsep karier linear. Mereka lebih menghargai fleksibilitas, makna kerja, dan kebebasan menentukan arah hidup. Polyworking memberi ruang untuk bereksperimen tanpa harus sepenuhnya meninggalkan pekerjaan utama.

BACA JUGA:KUR Mandiri Terbaru 2026, Pinjaman Rp 200.000.000 Tanpa Jaminan, Ini Tabel Angsuran dan Syaratnya

Namun, di balik peluang yang ditawarkan, polyworking juga menyimpan tantangan. Manajemen waktu menjadi kunci utama. Menjalani beberapa peran sekaligus berisiko memicu kelelahan fisik dan mental jika tidak diatur dengan baik.

Sumber: dikutip dari berbagai sumber