Naik Kelas atau Blunder? Prediksi Nasib Infinix di 2026 Saat Harga Makin Mahal
Naik Kelas atau Blunder? Prediksi Nasib Infinix di 2026 Saat Harga Makin Mahal-istimewa-dokumen
RASELNEWS.COM - Dulu, Infinix identik dengan satu hal: murah tapi bertenaga. Brand ini dikenal berani memberikan spesifikasi tinggi dengan harga agresif, menyasar pelajar, mahasiswa, hingga pengguna pertama smartphone. Strateginya jelas, Infinix 2026,menjual performa maksimal dengan budget minimal.
Namun memasuki 2026, arah Infinix terlihat mulai berubah. Harga produk perlahan naik, dan pertanyaan besar pun muncul: apakah Infinix siap naik kelas, atau justru terjebak di tengah perubahan ekspektasi pasar?
BACA JUGA:Infinix Note 60 Pro Bocor ke Publik, Smartphone Mid-Range Rasa Flagship Siap Meluncur
Dari Raja HP Murah ke Zona Harga Baru
Selama bertahun-tahun, kekuatan Infinix ada pada kombinasi harga rendah dan spek tinggi. Formula ini terbukti sukses mempercepat pertumbuhan brand, terutama di pasar berkembang seperti Indonesia.
Namun strategi tersebut juga menciptakan “DNA murah” yang melekat kuat di benak konsumen. Dulu ini menjadi kekuatan, kini berpotensi menjadi beban.
Beberapa rilisan terbaru menunjukkan perubahan arah. Seri Note yang sebelumnya identik dengan harga terjangkau kini mulai menyentuh kisaran Rp3 jutaan. Bahkan rumor menyebut generasi selanjutnya bisa masuk rentang Rp4–6 jutaan.
Jika benar, ini bukan sekadar kenaikan harga—melainkan perubahan positioning besar-besaran.
BACA JUGA:Infinix Note 60 Pro Muncul Saat Harga Smartphone Flagship 2026 Makin Tak Masuk Akal, Segini Harganya
Masalah Utamanya Bukan Mahal, Tapi Ekspektasi
Di kelas harga murah, pengguna cenderung toleran. Bug kecil, update lambat, atau UI kurang mulus masih bisa dimaklumi. Tapi ketika harga naik, toleransi hilang.
Di harga midrange, konsumen mulai kritis. Mereka tidak hanya melihat spek, tapi juga:
Stabilitas software
Konsistensi update
Pengalaman jangka panjang
Nilai jual kembali
Satu bug saja bisa jadi alasan pindah brand. Satu update bermasalah bisa merusak reputasi.
Di sinilah tantangan besar Infinix dimulai.
BACA JUGA:Panggilan Satelit di HP Rp4 Jutaan? Infinix Note 60 Ultra Hadir, Baterai 7.500 mAh dan Kamera Telefoto 50 Mp
Spek Bukan Lagi Senjata Utama
Pada era 2020–2023, spek tinggi bisa menutupi banyak kekurangan. RAM besar dan chipset kencang sudah cukup membuat konsumen puas.
Namun kini pasar berubah. Di harga Rp4–6 jutaan, semua brand sudah menawarkan standar tinggi. Layar bagus, kamera mumpuni, dan performa stabil bukan lagi keunggulan—melainkan syarat minimum.
Artinya, pembeda utama bukan lagi hardware, melainkan pengalaman penggunaan jangka panjang.
Dan di titik ini, Infinix punya PR besar.
BACA JUGA:Baru Dirilis, Ini 6 Model HP Infinix 2026, Baterai Besar Layar Luas dan Kamera Berkualitas
Software Jadi Titik Kritis
Selama ini, kritik terhadap Infinix paling sering datang dari sisi software. Beberapa keluhan yang sering muncul antara lain:
Update tidak merata antar seri
UI terasa berat
Dukungan jangka panjang kurang jelas
Nilai jual kembali cepat turun
Di HP murah, masalah ini masih bisa ditoleransi. Tapi di kelas harga lebih tinggi, software bukan bonus—melainkan “jantung” produk.
BACA JUGA:Infinix Note 60 Pro Dikabarkan Hadir dengan RAM 12/512GB, Baterai 5.500 mAh, Dimensity 8500
Brand yang ingin naik kelas wajib menjamin:
Update rutin
Stabilitas sistem
Dukungan 2–3 tahun minimal
Tanpa itu, kenaikan harga akan terasa tidak sepadan.
Identitas Murah: Kekuatan yang Jadi Beban
Sejarah panjang Infinix sebagai brand murah menciptakan dilema. Di satu sisi, reputasi ini membantu mereka tumbuh cepat. Di sisi lain, stigma “HP murah” sulit dihapus.
Saat harga mulai naik, konsumen akan membandingkan dengan brand yang sudah mapan di kelas menengah, seperti:
BACA JUGA:Idola Baru! Infinix Note 60 Pro 5G Resmi Meluncur, Jadi HP Paling Menggoda Awal 2026
Samsung
Xiaomi
Brand di bawah grup BBK
Pertanyaan yang muncul sederhana: jika harganya sama, kenapa harus pilih Infinix?
Lineup Terlalu Ramai, Segmentasi Kurang Jelas
Tantangan lain adalah banyaknya lini produk. Infinix memiliki berbagai seri seperti Smart, Hot, Note, GT, hingga varian baru lainnya.
Bagi sebagian konsumen, ini justru membingungkan. Perbedaan antar seri sering tipis, membuat segmentasi terasa kurang jelas.
Bandingkan dengan brand lain yang punya lini lebih terstruktur, sehingga mudah dipahami konsumen.
BACA JUGA:Infinix GT50 Pro Muncul Perdana di Chest 2026, Hadirkan Teknologi Liquid Cooling Aktif
Risiko Terbesar: Kehilangan Dua Pasar Sekaligus
Setiap brand yang naik kelas biasanya menghadapi fase berbahaya: kehilangan pengguna lama tanpa berhasil menarik pengguna baru.
Pengguna lama merasa brand sudah tidak “ramah kantong”. Sementara pengguna kelas atas belum sepenuhnya percaya.
Jika transisi ini gagal, brand bisa terjebak di tengah—tidak dominan di harga murah, tapi belum kuat di harga tinggi.
Apakah Infinix Akan Tumbang?
BACA JUGA:MURAH! Ini Daftar Harga HP Infinix Tahun 2026, Mulai SMART 10, Hot 60 Pro dan GT 30 Pro
Secara finansial, kemungkinan bangkrut sangat kecil. Infinix berada di bawah Transsion Group yang punya sumber daya besar dan basis pasar luas.
Namun risiko sebenarnya bukan soal bertahan hidup, melainkan kehilangan posisi sebagai pilihan utama “kaum mendang-mending”.
Jika seri Note benar masuk harga Rp4–6 jutaan, dan GT Series lebih tinggi lagi, maka pertarungan akan jauh lebih berat.
Kunci Masa Depan: Software dan Konsistensi
BACA JUGA:Andalan HP Murah 2026 Infinix SMART 10, Desain Menarik Baterainya Tahan Seharian
Naik harga bukan masalah—asal diiringi peningkatan nyata. Jika Infinix ingin sukses naik kelas, ada satu kunci utama: konsistensi software.
Minimal, brand harus mampu memberikan:
Update rutin dan transparan
Stabilitas jangka panjang
Dukungan OS yang jelas
Pengalaman penggunaan lebih matang
Jika ini berhasil, kenaikan harga bisa diterima pasar. Bahkan bisa menjadi game changer.
Namun jika harga naik tanpa peningkatan kualitas menyeluruh, langkah ini berpotensi jadi blunder besar.
2026: Tahun Penentuan bagi Infinix
BACA JUGA:Rekomendasi HP Infinix Terbaik Awal 2026, Cocok Buat Pelajar dan Gaming Jaringan 5G
Tahun 2026 bisa menjadi titik balik. Infinix mungkin tidak akan hilang dari pasar, tapi posisinya bisa berubah drastis.
Apakah mereka berhasil naik kelas dan diakui sebagai brand midrange serius?
Atau justru kehilangan identitas dan terjebak di tengah persaingan?
Semua akan ditentukan oleh satu hal: apakah Infinix benar-benar berinvestasi pada pengalaman pengguna, bukan sekadar menaikkan harga.
Yang jelas, pasar smartphone kini jauh lebih kejam. Dan di era baru ini, spek saja tidak lagi cukup. (*)
Sumber: dikutip dari berbagai sumber