RASELNEWS.COM - Apa yang terjadi jika Anda puasa gula 30 hari? Perlu diketahui mengonsumsi gula berlebihan setiap hari ternyata memberi beban besar pada salah satu organ vital tubuh, yakni ginjal.
Organ ini bekerja ekstra keras untuk menyaring darah, terutama ketika kadar gula dalam tubuh terus meningkat akibat pola makan tinggi gula dan karbohidrat olahan.
Dokter Hans, praktisi kesehatan yang kerap membahas nutrisi dan metabolisme menjelaskan bahwa ginjal berfungsi menyaring hampir 50 galon darah setiap hari.
BACA JUGA:Apa Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan! Tapi Jangan Berlebihan, Apalagi Ibu Hamil, Ini Risikonya
Ketika asupan gula tinggi dan terjadi secara terus-menerus, sistem penyaringan ginjal, terutama bagian glomerulus, mengalami perubahan yang berisiko merusak fungsi ginjal dalam jangka panjang.
Asupan gula yang berlebihan dapat memicu kondisi hiperfiltrasi glomerulus, yaitu keadaan ketika ginjal bekerja terlalu keras menyaring darah.
Beban berlebih ini lama-kelamaan merusak nefron, yakni unit penyaring kecil di ginjal yang jumlahnya terbatas dan sulit diperbaiki jika sudah rusak.
Fakta lainnya, ginjal tidak memberikan sinyal peringatan dini. Gejala biasanya baru muncul ketika kerusakan sudah mencapai lebih dari 70 persen.
BACA JUGA:6 Manfaat Luar Biasa Gel Lidah Buaya untuk Kesehatan Kulit
Parameter medis yang sering digunakan untuk menilai fungsi ginjal adalah eGFR. Jika angkanya turun di bawah 45, kondisi tersebut umumnya bersifat irreversibel atau tidak dapat kembali seperti semula karena telah terjadi fibrosis atau pembentukan jaringan parut pada ginjal.
Lalu, apa yang terjadi jika konsumsi gula dihentikan selama 30 hari?
Pada 72 jam pertama, tubuh biasanya mengalami gejala putus gula atau withdrawal, seperti sakit kepala, perubahan suasana hati, hingga keinginan kuat mengonsumsi makanan manis.
Hal ini terjadi karena otak kehilangan sumber energi instan. Meski demikian, fase ini juga mulai menurunkan pembentukan senyawa AGEs (Advanced Glycation End Products) yang berperan dalam penuaan dini dan kerusakan ginjal.
BACA JUGA:Mengenal Manfaat Nanas, Buah Eksotis Kaya Gizi dan Baik untuk Kesehatan
Memasuki hari keempat hingga ketujuh, energi tubuh menjadi lebih stabil. Ginjal mulai membuang kelebihan cairan yang sebelumnya tertahan akibat tingginya insulin. Dampaknya, tekanan darah berangsur menurun, iritabilitas berkurang, dan kejernihan mental meningkat.
Pada minggu kedua, terjadi kalibrasi ulang indera perasa. Lidah menjadi lebih sensitif terhadap rasa manis sehingga keinginan terhadap makanan dan minuman manis berlebihan mulai menurun.
Selain itu, kesehatan pencernaan membaik karena berkurangnya bakteri jahat di usus yang bergantung pada gula.
Memasuki minggu ketiga hingga keempat, tubuh memasuki fase pemulihan mendalam. Peradangan menurun, ditandai dengan penurunan penanda inflamasi seperti CRP.
BACA JUGA:Membungkus Makanan dengan Kertas Bekas Berisiko Serius Bagi Kesehatan, Ini Alasannya
Ekskresi kalsium berlebih dalam urin juga berkurang sehingga risiko pembentukan batu ginjal menurun. Fungsi nefron mulai membaik, kebocoran protein dalam urin (albuminuria ringan) berkurang, serta sensitivitas insulin meningkat.
Dokter Hans menegaskan bahwa 30 hari tanpa gula bukanlah garis akhir, melainkan titik awal perubahan gaya hidup.
Dalam periode ini, fungsi ginjal dapat mulai membaik dan penanda stres ginjal menurun, meski pemulihan optimal memerlukan konsistensi jangka panjang.
Mengurangi gula tambahan dari makanan dan minuman kemasan, serta memilih sumber karbohidrat alami seperti nasi, umbi-umbian, dan buah dalam jumlah wajar, menjadi langkah awal yang dinilai paling mudah dilakukan.
BACA JUGA:7 Manfaat Teh Hijau untuk Kesehatan Kulit, Wanita Wajib Tahu
Dengan kebiasaan ini, ginjal memiliki kesempatan lebih besar untuk bekerja optimal dan terhindar dari kerusakan kronis di masa depan. (**)