Harga Benur di Kaur Terus Anjlok

Harga Benur di Kaur Terus Anjlok

BINTUHAN – Memburu benur (baby lobster) merupakan pekerjaan yang menjanjikan untuk nelayan di Kabupaten Kaur ditengah pademi. Selain harga tinggi, benur juga tidak terlalu sulit ditangkap dan lokasi menangkapnya juga tidak terlalu jauh dari daratan.

Tak heran bila 75 persen nelayan di beberapa pelabuhan memilih memburu benur ketimbang ikan segar. “Satu hari kami bisa dapatkan 100 ekor lebih bahkan ada yang sampai 400 ekor, sayang saat ini harganya anjlok, terakhir hanya dihargai Rp4500. Padahal sebelumnya sempat menyentuh angka Rp 10 ribu,” ujar salah satu nelayan di Kota Bintuhan yang minta identitasnya dirahasiakan

Untuk menjebak benur tidak terlalu sulit. Nelayan cukup menggunting waring (jaring halus) kemudian mengikatnya menjadi bentuk gumpalan atau bentuk model bunga mawar. Setelah jadi kemudian ikatan itu diikat lagi di seutas tali selanjutnya dibuang ditengah lautan dengan menambahkan lampu rakitan.

Kemudian tambahkan lampu rakitan dengan baterai jam dinding sebanyak dua buah kemudian dinyalakan, Dengan tambahan lampu ini, malam harinya benur mendekat dan menempel di waring sehingga siang harinya diangkat. “Dua hari ini penampung tak membeli benur kami juga kesulitan dan terpaksa tak mengangkat jaring dahulu sebelum penampung membeli kembali,” ujarnya membeberkan.

Kabid Pemberdayaan Nelayan dan Budidaya Dinas Perikanan Kaur Miti Suryani, S.Pi, M.Si, membenarkan masih banyaknya nelayan yang menangkap benur. Penangkapan benur ini terus meningkat pasca dilegalkan penangkapannya oleh pemerintah pada beberapa waktu yang lalu. Namun meski saat ini dilakukan pelarangan ekspor benur namun nelayan tetap melakukan penangkapan. “Ya nelayan kita masih menangkap benur, namun kemana dijual kita tak tahu persis, jumlah nelayan yang menangkap benur masih banyak,” tuturnya.(jul)

Sumber: