Melihat Lebih Dekat Pembuatan Perahu Fiberglass di Bengkulu Selatan

Melihat Lebih Dekat Pembuatan Perahu Fiberglass di Bengkulu Selatan

Lebih “Lincah”, Biaya Perawatan Juga Murah

Seiring dengan berkembangnya zaman dan tekonologi, masyarakat khususnya nelayan mulai berinovasi dalam menggunakan peralatan tangkap ikan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Salah satunya penggunaan perahu fiberglass atau lebih sering dikenal dengan perahu fiber. Perahu yang terbuat dari serat fiber dan resin ini mulai disukai kalangan nelayan lokal.

Salah satunya karena daya tahan perahu terhadap air asin lantaran bahannya terbuat dari fiber.

Laporan : Rezan Okto Wesa

PARA Nelayan di Kabupaten Bengkulu Selatan (BS), mulai menggunakan perahu yang terbuat dari bahan baku serat fiber. Pasalnya, selain tahan lama, dari segi perawatan, dinilai lebih mudah disbanding perahu yang terbuat dari bahan baku kayu.

Namun, untuk mendapatkan sebuah perahu jenis fiberglass tidaklah mudah. Ada proses yang cukup panjang. Tentunya dilakukan oleh orang profesional dan membidangi hal itu.

Untuk memperjelas serta mendapatkan langsung informasi terkait proses dan cara pembuatan perahu jenis fiberglass ini. Rasel mencoba mendatangi salah satu usaha pembuatan perahu fiberglass di Dusun Sekunyit Desa Pagar Dewa Kecamatan Kota Manna, Kamis (10/3/2022).

Saijan (43) selaku pemilik usaha pembuatan perahu fiberglass yang berlogo khas “SJN” menuturkan, sedikitnya ada lima proses penting dalam pembuatan perahu jenis fiber. Langkah pertama adalah pembuatan cetakan, kedua adalah pembuatan kerangka, lalu persiapan bahan baku, kemudian tahap pembentukkan bodi perahu dan terakhir adalah finishing.

Untuk bahan, terdiri dari serat fiber, resin, cat minyak, kayu dan pipa plastik. “Saya mulai melakoni usaha ini sejak enam tahun terakhir. Awalnya dulu saya seorang pekerja di perusahaan perahu di Jawa Timur. Kemudian merantau ke sini untuk membuka usaha. Sekarang, usaha yang kami lakoni ini mulai diterima masyarakat dan banyak juga yang memakai jasa kami,” ujarnya.

Pada langkah awal pembuatan perahu, Saijan mengaku cetakan perahu dibuat dari serat fiber yang ukurannya sudah disesuaikan. Untuk di lokasi produksi perahu fiberglass SJN, saat ini sudah tersedia tiga cetakan perahu. Pertama ukuran 18,5 meter x 1,65 meter, 20,5 meter x 2,15 meter, dan ukuran 35 meter x 3,5 meter.

“Untuk cetakan ini, kami bikin sendiri dengan bentuk yang khas. Khusus produk SJN, perahunya berjenis tapak lebar atau bagian dada perahu dibuat luas. Tujuannya, agar daya apung perahu lebih besar dan gerakannya lebih lincah,” ungkap Saijan.

Setelah cetakan selesai, maka masuk ke proses pembuatan perahu. Di proses ini, bagian kerangka perahu yang terbuat dari kayu dan pipa plastik akan dirangkai. Setelah itu, lembar per lembar serat fiberglass akan disusun diatas kerangka seraya ditebar resin. Untuk satu perahu berukuran sedang (20,5 x 2,15 meter) bisa menghabiskan dua drum resin.

“Proses cetak bodi perahu tidak terlalu lama, sekitar 3-4 hari sudah selesai. Yang cukup lama itu finishing. Sebab bodi perahu harus dirapikan dan dicat ulang agar lebih tahan terkena air asin dan benturan,” jelas Saijan.

Jika bodi perahu selesai, langkah terakhir adalah penyesuaian tempat dudukan mesin. Pada produksi perahu fiberglass “SJN” ada dua tipe dudukan mesin perahu yang dibuat.

Pertama dudukan tunggal dan dudukan ganda. “Kalau jenis mesinnya, itu tergantung pesanan nelayan. Kebanyakan yang menggunakan mesin diesel, karena konsumsi bahan bakar minyak (BBM) lebih irit dan tenaganya lebih besar,” ungkap Saijan.

Berapa satu perahu? Tentu tergantung dengan ukuran. Untuk perahu berukuran sedang sebut Saijan, dijual Rp 27 juta dan ukuran besar diatas Rp 30 juta. Harga tersebut belum termasuk ongkos kirim alias harga di lokasi.

“Kalau rerata perbulan pesanan perahu itu, berkisar sembilan sampai 12 unit. Ya..tergantung kondisi. Misal kalau lagi ada pembentukkan kelompok nelayan baru, pasti pesanan perahu kami cukup tinggi,” beber Saijan.

Selain memproduksi perahu jenis fiberglass, ia mengaku pihaknya juga menerima servis perahu fiber yang dalam kondisi rusak berat. Rerata kerusakan perahu fiber karena hantaman karang tajam dan perahu tersebut lebih sering diangkat ke atas pasir pantai.

“Sifat perahu ini harus lebih banyak diletakkan di air, agar daya tahannya lebih kuat. Kalau sering parkir di pasir, perahu mudah retak dan bolong,” pungkasnya. (**)

Sumber: