Dibuat Bingung Tapi Bermakna! Abu Nawas Jawab 3 Pertanyaan yang Sama Namun Jawaban Berbeda

Dibuat Bingung Tapi Bermakna! Abu Nawas Jawab 3 Pertanyaan yang Sama Namun Jawaban Berbeda

Dibuat Bingung Tapi Bermakna! Abu Nawas Jawab 3 Pertanyaan yang Sama Namun Jawaban Berbeda -istimewa-

RASELNEWS.COM - Kali ini, Abu Nawas tampil sebagai seorang sufi yang cerdas dan bijaksana. Banyak orang datang untuk belajar darinya dan menjadi muridnya.

Salah satu tantangan yang dia terima adalah pertanyaan tentang cara merayu Tuhan agar semua permintaan umatnya terkabulkan.

Menariknya 3 pertanyaan ini sebenarnya sama. Namun Abu Nawas justru menjawab dengan jawaban berbeda.

BACA JUGA:4 Karya Sastra Terkenal Abu Nawas, Penyair Sufi Nyentrik Nan Cerdik Asal Persia

Dalam kecerdasannya, Abu Nawas mampu menjawab pertanyaan para muridnya dengan baik, membuat mereka puas dengan jawaban-jawabannya.

Salah satu murid bertanya, “Wahai guruku Abu Nawas, mungkinkah manusia merayu Tuhan?”

“Ya, mungkin saja,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa dan bagaimana caranya, Guruku?” tanya muridnya penasaran.

“Dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” kata Abu Nawas.

Murid Abu Nawas meminta diajari doa tersebut, dan Abu Nawas mengajarkan:

BACA JUGA:Kisah Horor Masinis di Palembang: Mengaku Diikuti Selendang Merah dan Bau Wangi

"Illahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa ‘alan naaril jahiimi, fahabli taubatan waghfir dzunuubi, fa innaka ghaafiruz dzanbil adhiimi."

Artinya: “Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar.”

Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul, salah satunya dari tiga murid yang bertanya hal yang sama. Murid pertama bertanya, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau dosa-dosa kecil?”

BACA JUGA:Viral, Kisah Wanita Hamil yang Kehilangan Janin Usai Mengantar Seorang Nenek

“Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa, Guruku?” tanya murid pertama.

“Karena lebih mudah diampuni oleh Tuhan,” kata Abu Nawas.

Murid kedua bertanya hal yang sama, dan Abu Nawas menjawab, “Orang yang tidak mengerjakan keduanya.”

“Mengapa, Guruku?” kata murid kedua.

BACA JUGA:Sahabat Rasulullah yang Tidak Pernah Miskin, Abdurahman Bin Auf Sang Dermawan, Berikut Kisahnya

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan,” jawab Abu Nawas.

Murid ketiga pun bertanya pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau dosa-dosa kecil?”

“Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa?” kata murid ketiga.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu,” jawab Abu Nawas.

BACA JUGA:Mengintip Kisah Khalid Bin Walid, Sahabat Nabi yang Dijuluki Pedang Allah, Tak Takut Mati Dalam Berjihat

Namun, ada satu murid yang terus memperhatikan jawaban-jawaban Abu Nawas yang berbeda-beda untuk pertanyaan yang sama. Akhirnya, murid tersebut bertanya, “Guruku, mengapa Anda menjawab tiga pertanyaan yang sama dengan jawaban yang berbeda?”

Abu Nawas menjawab, “Manusia dibagi dalam tiga tingkatan: mata, otak, dan hati.”

“Tingkatan mata apa itu?” tanya murid tersebut.

“Anak kecil melihat bintang di langit, ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata,” jawab Abu Nawas.

“Tingkatan otak bagaimana?” tanya murid tersebut.

BACA JUGA:Viral! Kisah Wanita Makasar Ditinggal Menikah, Padahal Sudah Biayai Kekasih dari SMP Sampai S2

“Orang pandai melihat bintang di langit, ia mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan,” jawab Abu Nawas.

“Lalu tingkatan hati?” tanya murid tersebut.

“Orang yang mengerti melihat bintang di langit, ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti, tidak ada yang besar jika dibandingkan dengan Maha-Besarnya Allah,” terang Abu Nawas.

BACA JUGA:Viral, Kisah Pasutri Cerai Gegara Suami 'Gila' Judi Online: BPKB dan Sertifikat Digadaikan, Utang Sana Sini

Akhirnya, murid tersebut memahami mengapa Abu Nawas menjawab tiga pertanyaan yang sama dengan tiga jawaban yang berbeda. (red)

Sumber: