Waspada! Biaya Produksi Melonjak, Harga Pakaian Terancam Naik Tajam

Waspada! Biaya Produksi Melonjak, Harga Pakaian Terancam Naik Tajam

Waspada! Biaya Produksi Melonjak, Harga Pakaian Terancam Naik Tajam-istimewa-dokumen

RASELNEWS.COM - Industri tekstil nasional mulai menghadapi tekanan serius akibat lonjakan harga bahan baku yang signifikan. Kenaikan ini mendorong biaya produksi meningkat drastis, bahkan disebut bisa mencapai hingga 50 persen.

 

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Danang Girindrawardana, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan, terutama karena besarnya kontribusi bahan baku dalam struktur biaya produksi.

BACA JUGA:Dari Dapur ke Peluang Bisnis: Warga Bengkulu Selatan Produksi Sabun Sendiri, Siap Tembus Pasar

 

Ia menjelaskan bahwa bahan baku menyumbang sekitar 22 hingga 28 persen dari total biaya produksi. Ketika harga komponen ini melonjak tajam, dampaknya langsung terasa pada keseluruhan biaya produksi yang ikut terdongkrak signifikan. Pada akhirnya, pelaku industri hampir tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan harga jual.

 

Kondisi ini berpotensi berdampak langsung pada konsumen. Jika tekanan biaya terus berlanjut, harga produk tekstil dan garmen di pasar domestik dipastikan akan mengalami kenaikan.

BACA JUGA:Kadis Dikbud Bengkulu Selatan Tegaskan Sanksi Tegas bagi Guru yang Sering Bolos

 

Meski demikian, pelaku industri saat ini masih berupaya menahan kenaikan harga. Langkah tersebut diambil untuk menjaga daya beli masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan. Namun, upaya ini bersifat sementara dan sangat bergantung pada perkembangan situasi ke depan.

 

Penahanan harga juga menjadi strategi untuk menjaga stabilitas pasar domestik agar tidak mengalami gejolak dalam jangka pendek. Namun, keberlanjutan strategi ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, khususnya terkait stabilitas harga energi dan bahan bakar.

BACA JUGA:Anggota DPRD Bengkulu Selatan Apresiasi Kejari Bongkar Kasus HPT Bukit Rabang

 

Pelaku industri berharap pemerintah dapat memastikan tidak terjadi kenaikan harga energi hingga 2026, karena hal tersebut dinilai krusial dalam menahan lonjakan biaya produksi.

 

Saat ini, sebagian industri masih bertahan karena menggunakan stok bahan baku yang dibeli sebelumnya dengan harga lebih rendah. Namun, kondisi ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Memasuki triwulan kedua 2026, industri harus kembali melakukan impor bahan baku dengan harga yang lebih tinggi, yang berpotensi mempercepat kenaikan harga di tingkat konsumen. (*)

 

Sumber: