RASELNEWS.COM - Setelah cukup lama absen di pasar Indonesia, Motorola akhirnya kembali membawa lini ikoniknya, Razr, melalui Motorola Razr 60. Kehadiran ini jelas menjadi momen yang ditunggu, terutama bagi penggemar perangkat foldable yang pernah merasakan era kejayaan Razr klasik.
Secara pribadi, momen mencoba perangkat ini terasa cukup spesial. Setelah sekian lama hanya bisa menjajal unit impor, kini Razr sudah bisa diakses secara resmi di Indonesia. Namun, di balik antusiasme tersebut, ada satu hal yang cukup terasa: ekspektasi yang perlahan menurun seiring penggunaan.
BACA JUGA:Rekomendasi HP Midrange Kamera Terbaik dan Tahan Air 2026, Mulai Rp2 Jutaan
Desain Masih Punya "Rasa Premium"
Dari sisi pengalaman awal, Motorola cukup serius. Paket penjualan terasa lengkap, termasuk hard case dengan desain sederhana namun tetap memberi kesan premium. Bahkan, unit sudah langsung siap digunakan tanpa perlu aksesori tambahan yang merepotkan. Kehadiran charger dalam paket juga menjadi nilai plus di era banyak brand mulai menghilangkannya.
Secara desain, Razr 60 tampil elegan. Materialnya terasa premium dengan finishing belakang bertekstur lembut menyerupai kulit sintetis. Bentuk bodi yang membulat membuat perangkat ini nyaman digenggam, bahkan dalam penggunaan jangka panjang. Bobotnya juga relatif ringan untuk kategori foldable.
Varian warna biru yang digunakan terasa understated namun tetap menarik secara visual. Penempatan logo Motorola dan Razr di bagian belakang menjadi sentuhan akhir yang memperkuat identitas desainnya.
BACA JUGA:6 Rekomendasi HP Murah Kamera Juara April 2026: Hasil Foto Tajam, Siap Saingi iPhone
Layar dan Pengalaman Foldable
Salah satu daya tarik utama Razr 60 adalah layar eksternal berukuran besar dengan refresh rate tinggi. Fungsionalitasnya cukup luas dan dapat digunakan langsung untuk berbagai aplikasi tanpa perlu banyak konfigurasi tambahan.
Pendekatan ini membuat pengalaman penggunaan terasa lebih sederhana dibanding beberapa kompetitor yang masih membutuhkan aplikasi tambahan untuk mengoptimalkan layar luar. Bagi pengguna awam, ini jelas menjadi nilai lebih karena perangkat langsung bisa digunakan secara intuitif.
BACA JUGA:Rekomendasi HP Lipat dengan Harga Lebih Terjangkau di Indonesia (April 2026)
Durabilitas dan Haptic Feedback
Dari sisi ketahanan, perangkat ini sudah dibekali perlindungan Corning Gorilla Glass Victus serta sertifikasi IP48. Engselnya terasa solid dan tidak memberikan kesan longgar saat digunakan.
Menariknya, sistem getar (vibration motor) pada perangkat ini terasa cukup baik, bahkan bisa dibilang lebih solid dibanding beberapa kompetitor di kelas foldable lainnya.
Baterai dan Pengisian Daya
Untuk daya tahan baterai, hasil penggunaan sehari-hari menunjukkan angka yang cukup solid untuk kategori foldable, dengan rata-rata screen-on time sekitar 5,5 jam dalam penggunaan normal.
Efisiensi ini kemungkinan didukung oleh penggunaan chipset kelas menengah serta panel layar LTPO pada bagian internal. Pengisian daya juga tergolong cepat, dengan waktu sekitar satu jam untuk penuh. Tambahan lain yang cukup mengejutkan adalah dukungan wireless charging, fitur yang tidak selalu hadir di segmen ini.
BACA JUGA:5 Rekomendasi HP Samsung Murah Terbaru Maret 2026, Mulai Rp2 Jutaan
Software dan Fitur AI
Antarmuka Motorola tetap mempertahankan pendekatan yang bersih dan mendekati Android murni. Pengalaman ini menjadi salah satu keunggulan karena minim bloatware dan cukup responsif.
Terdapat beberapa fitur khas Motorola seperti integrasi ke PC dan fungsi kamera jarak jauh. Selain itu, perangkat ini juga sudah dibekali berbagai fitur AI, termasuk integrasi asisten berbasis AI pihak ketiga serta fitur pengolahan gambar.
Namun, beberapa fitur AI bersifat terbatas dan tidak sepenuhnya tanpa batas penggunaan.
BACA JUGA:Rekomendasi HP Rp1 Jutaan Terbaik Maret 2026: Baterai Besar, Performa Layak, Harga Bersahabat
Catatan Penting: Performa yang Kurang Seimbang
Di balik berbagai kelebihan tersebut, terdapat beberapa catatan serius yang cukup memengaruhi pengalaman penggunaan.
Razr 60 menggunakan chipset kelas menengah Dimensity 7400 dengan RAM 8 GB. Kombinasi ini terasa kurang ideal untuk perangkat foldable dengan dua layar dan fitur yang cukup kompleks.
Dalam penggunaan sehari-hari, terutama saat berpindah antar aplikasi atau menggunakan fitur layar eksternal secara intensif, sering terlihat penurunan responsivitas antarmuka. Beberapa animasi terasa tersendat, dan performa tidak selalu stabil.
Hal ini semakin terasa pada penggunaan kamera dan fitur AI yang cukup berat. Bahkan dalam beberapa skenario, performa terasa seperti perangkat kelas menengah, bukan perangkat premium.
Selain itu, penggunaan storage UFS 2.2 juga menjadi faktor pembatas dari sisi kecepatan sistem secara keseluruhan.
BACA JUGA:Daftar HP Samsung Terbaru 2026: Spesifikasi Lengkap dan Update Harga
Kamera: Banyak Potensi, Tapi Eksekusi Belum Stabil
Sektor kamera menjadi salah satu aspek yang paling terasa inkonsisten.
Perangkat ini tidak mendukung perekaman video 4K 60fps, yang cukup disayangkan untuk kelas harga dan positioning-nya. Dalam pengujian, kualitas video juga menunjukkan beberapa masalah seperti frame drop dan ketidakstabilan yang cukup sering terjadi.
Peralihan antar lensa (utama ke ultra-wide) juga terasa kurang mulus, tanpa transisi yang halus. Bahkan dalam beberapa kondisi, audio sempat terganggu saat pergantian kamera.
Di sisi lain, kamera utama masih mampu menghasilkan foto yang baik dalam kondisi cahaya cukup, dengan detail yang tajam meskipun ada kecenderungan sharpening. Kamera ultra-wide hadir dengan autofokus, meski responsnya tidak secepat kamera utama.
Untuk selfie, pengalaman menggunakan layar eksternal menjadi salah satu keunggulan. Hasil video selfie hingga 4K 30fps cukup solid, dengan warna yang natural, dynamic range baik, serta stabilisasi yang memadai.
BACA JUGA:HP Samsung Terbaru Maret 2026: Spesifikasi Makin Gahar, Harga Bikin Penasaran
Audio, Sensor, dan Hal Teknis Lain
Razr 60 hadir dengan stereo speaker yang cukup lantang, meskipun distorsi mulai terasa pada volume tinggi. Sensor sidik jari ditempatkan di sisi perangkat dan bekerja cukup responsif.
Dari sisi konektivitas, perangkat ini masih menggunakan USB 2.0, yang terasa tertinggal untuk kelasnya.
Harga dan Posisi di Pasar
Saat pertama kali masuk Indonesia, Razr 60 dibanderol sekitar Rp12 juta, sebelum akhirnya mengalami penyesuaian harga di kisaran Rp9-10 juta di pasar online.
Di segmen ini, Razr 60 memang menawarkan akses ke dunia foldable dengan harga lebih rendah dibanding flagship foldable lainnya. Namun, kompromi pada performa dan kamera menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Motorola Razr 60 adalah sebuah comeback yang menarik secara konsep, tetapi belum sepenuhnya matang dalam eksekusi.
BACA JUGA:HP Baru Honor 600 Lite 5G Meluncur, Spesifikasi Kelas Menengahnya Bikin Pesaing Ketar-ketir
Ia menawarkan desain premium, pengalaman foldable yang menyenangkan, serta software yang bersih. Namun di sisi lain, keterbatasan pada chipset, RAM, performa kamera, dan optimasi software membuat pengalaman keseluruhan terasa belum konsisten.
Bagi pengguna yang ingin sekadar mencoba pengalaman foldable dari brand besar dengan harga lebih terjangkau, Razr 60 masih bisa menjadi opsi menarik. Namun bagi mereka yang mengharapkan perangkat flagship yang benar-benar seimbang, mungkin perlu menunggu generasi berikutnya.
Motorola sudah berada di jalur yang tepat, tinggal satu langkah lagi untuk benar-benar kembali ke puncak persaingan foldable.(*)