Di antara dentum dan doa: Jalan sunyi seorang jurnalis

Di antara dentum dan doa: Jalan sunyi seorang jurnalis

catatan tulisan karya jurnalis antara-istimewa-dokumen

Rock n’ Roll tidak digambarkan sekadar sebagai genre, melainkan sebagai energi atau daya dobrak terhadap batas, ketakutan, dan keraguan diri.

Di tengah keterbatasan, dentuman musik menjadi bahasa perlawanan sekaligus penegasan identitas.

Di situlah letak daya tarik biografi ini. Banyak tokoh pers lahir dari tradisi akademik yang mapan atau aktivisme kampus yang ideologis. Munir justru ditempa oleh atmosfer panggung yang cair dan bebas.

BACA JUGA:Motor Listrik Segway N100 Meluncur, Tampil Modern dengan Teknologi Mutakhir

Ia belajar bukan dari ruang kuliah yang tenang, melainkan dari sorotan lampu, riuh penonton, dan dinamika kelompok musik yang menuntut kekompakan sekaligus ketegasan sikap.

Dunia itu mungkin tampak jauh dari redaksi, tetapi justru di sanalah fondasi mentalnya dibangun. Jika dibaca lebih dalam, pengalaman bermusik adalah latihan menghadapi publik.

Di atas panggung, seorang musisi belajar mengelola emosi, menerima kritik secara langsung, bahkan menghadapi penolakan.

BACA JUGA:Daftar Lengkap UMR 2026 di Indonesia dan Rata-rata Kenaikannya

Ia dituntut tetap berdiri tegak ketika sorakan tak selalu ramah. Ketika kelak memasuki ruang redaksi, pelajaran itu menjelma keberanian menyampaikan fakta, sekalipun tidak populer. Ada kesinambungan antara keberanian memetik gitar di hadapan massa dan keberanian menulis berita yang mungkin mengguncang kepentingan.

Transformasi dari musik ke jurnalisme menunjukkan bahwa integritas tidak selalu lahir dari jalur lurus. Ia kerap tumbuh dari pergulatan identitas, dari fase pencarian yang kadang bising dan penuh eksperimen.

BACA JUGA:2 Warna Baru New Yamaha WR155R 2026 Resmi Hadir, Harga Naik? Ini Detail Perubahannya

Dalam konteks generasi muda yang akrab dengan budaya populer dan media sosial, kisah ini terasa relevan. Kreativitas dan idealisme tidak harus dipertentangkan. Energi kreatif dapat diarahkan menjadi kekuatan advokasi publik, selama ditopang nilai yang kokoh.

Dunia jurnalistik kemudian menjadi ruang pengabdian Munir. Ia melewati fase reporter lapangan, berpacu dengan tenggat, menyusuri lokasi peristiwa, dan berhadapan dengan tekanan yang tak jarang menguji ketahanan pribadi.

BACA JUGA:RESMI TANTANG ADV! Kymco Dink G150 2026 Tampil Petualang, Bukan Kaleng-Kaleng

Di sanalah sekolah integritas berlangsung. Ia memahami bahwa berita bukan sekadar produk informasi yang dikejar demi kecepatan, melainkan tanggung jawab moral yang berdampak pada persepsi publik. Setiap kata memiliki konsekuensi, setiap judul memengaruhi cara masyarakat memahami realitas.

BACA JUGA:Harga Isuzu Traga Terbaru 2026, Truk Niaga Ringan Andal untuk Berbagai Usaha

Dalam konteks Indonesia yang terus memperkuat demokrasi, gagasan ini menjadi krusial. Kepercayaan publik terhadap media adalah fondasi demokrasi yang sehat. Tanpa kepercayaan, pers kehilangan legitimasi moralnya.

Buku ini secara implisit mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya tekanan eksternal seperti intervensi kekuasaan atau arus disinformasi, tetapi juga godaan internal. Komersialisasi berlebihan, kecepatan tanpa verifikasi, serta fragmentasi organisasi menjadi ujian yang tak kalah berat.

Sumber: