Kisah Pawang Gajah PLG Seblat, Anggap Gajah Seperti Anak Sendiri
Kisah Pawang Gajah PLG Seblat, Anggap Gajah Seperti Anak Sendiri -istimewa-dokumen
RASELNEWS.COM - Pagi itu udara cerah di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, Bengkulu Utara. Sejumlah Gajah tampak asyik makan di padang rumput. Sementara para mahout (Pawang Gajah) tengah bersiap melakukan rutinitas dengan para Gajah. Puryanto, pawang Gajah Bona dan Sari, mengiring dua Gajah betina itu turun ke sungai Seblat.
"Kalau rutinitas pagi ya biasa, memberi makan Gajah dan memandikan di sungai," kata Puryanto yang ditemui tiga pekan lalu.
Terdapat 14 pawang Gajah yang menjaga Gajah. Masing - masing Gajah dilatih satu orang pawang.
BACA JUGA:Polres Bengkulu Selatan Panen Jagung 20 Ton, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Puryanto menyebut, aktivitas memandikan gajah dimulai pukul 07.30 WIB. Setelah itu memberi pakan, mengecek kesehatan gajah dan mengambil pakan diseberangi sungai. Aktivitas memandikan gajah kembali dilakukan pada sore harinya.
"Memandikan gajah dari jam 4 sampai 5 sore," cerita Puryanto.
Padatnya aktivitas pawang bersama gajah membuat keduanya memiliki kedekatan emosional. Puryanto menceritakan anak didiknya yang saat ini masuk usia remaja. Menurutnya, Bona semakin pintar dan penurut. Bona sampai saat ini masih menjalani pelatihan berupa latihan dasar hingga keterampilan khusus.
BACA JUGA:Pemprov Bengkulu Periksa Pejabat Terkait Isu Jual Beli Jabatan
"Bona ini belum lulus - lulus," kata Puryanto sembari tertawa.
Puryanto mengakui, saat merawat gajah, banyak suka dan duka harus dilewatinya. Namun rasa duka terlewati saat anak didiknya tersebut sehat dan pintar. Ditambah lagi, Bona gajah yang usil. Melihat tingkahnya yang lucu membuat ia senang.
"Sukanya banyak, kadang - kadang lihat dia bertingkah, dia lucu kita senang," ujarnya.
BACA JUGA:Pelantikan Pengurus PWRI Bengkulu Selatan Masa Bakti 2025-2030
Sudah Seperti Anak Sendiri
"Kalau gajah disini sudah seperti anak sendiri," kata Barokah, pawang gajah Nelson.
Barokah bahkan rela tidak pulang saat lebaran, hanya untuk merawat Nelson. Ayah empat anak ini menjadi mahout sejak tahun 1997 dan 10 tahun terakhir menjadi pawang utama.
Barokah menyebut, hal yang paling ditakutinya adalah saat Nelson sakit.
"Ya khawatir, takut (mati). Kayak sama anak sendiri, kalau sakit kita khawatir sekali," katanya.
Neslon salah satu ikon gajah PLG Seblat yang usianya lebih dari 50 tahun. Nelson dibina di PLG Seblat saat berusia remaja. Sebelumnya Nelson sebelumnya gajah liar yang kemudian menjalani pelatihan di PLG Seblat.
BACA JUGA:Penusukan Berdarah di Bengkulu Selatan, Pelaku dan Korban Ternyata Masih Keluarga
Selain Sari dan Bona dan Nelson, ada juga gajah Ucok. Gajah jantan yang usianya sudah lebih 50 tahun. Sebenarnya, nama asli Ucok adalah Tjokro. Namun karena pawangnya dulu adalah orang Medan, dan sering memanggil Tjok, maka jadilah nama panggilannya Ucok.
Tidak seperti yang lainya, Ucok sedang dirantai karena sedang dalam masa emas. Masa emas gajah adalah periode puncak birahi pada gajah jantan sehingga mereka lebih agresif dan susah dikendalikan. Tidak seperti gajah lainnya, Ucok tidak bisa diajak berinteraksi secara berlebihan.
BACA JUGA:ASN Pemprov Bengkulu Wajib Kembali Masuk Kantor Mulai 30 Maret 2026
TWA Seblat saat ini mengelola 10 individu gajah dengan rentang usia 15 - 48 tahun. Seluruh gajah merupakan hasil penanganan konflik atau penyelamatan satwa. Sejak 1995 kawasan ini telah mengalami beberapa perubahan fungsi hingga akhirnya ditetapkan sebagai TWA Seblat pada 2011 dengan luas sekitar 7.732,80 ha. (*)
Sumber: