Kebutuhan Minyak Goreng Tak Mencukupi, Warga : Tidak Adil 

Kebutuhan Minyak Goreng Tak Mencukupi, Warga : Tidak Adil 

Operasi pasar untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng yang digelar Dinas Perindagkop-UM Kabupaten Bengkulu Selatan (BS) bekerja sama dengan PT. Wilmar Group, Rabu (9/3/2022), banyak disesalkan berbagai pihak. Apalagi kebanyakan warga tidak kebagian minyak goreng merek Siip tersebut. Padahal mereka sudah mengantre lama dan berhimpit-himpitan hanya untuk mendapatkan minyak goreng seharga Rp 25 ribu dua kemasan tersebut.

Laporan : REZAN OKTO WESA

“TIDAK adil, tidak adil, kami tidak kebagian,” ungkap seorang wanita tua yang berhimpit-himpitan di tengah kerumunan massa yang mengantre minyak goreng di Lapangan Sekundang Setungguan. Namun teriakannya jelas tidak tergubris karena hampir semua orang ikut berteriak meminta agar mendapatkan minyak goreng yang disiapkan.

Operasi pasar yang dilaksanakan Rabu (9/3), digelar serentak di lima titik lokasi. Rencana awal dua titik di Lapangan Sekundang Setungguan, akhirnya difokuskan di satu titik. Lokasi lainnya, di Kecamatan Kedurang, Kecamatan Pino, Kecamatan Seginim dan Kecamatan Pino Raya. Total delapan ton minyak goreng yang didistribusikan dengan harga Rp 25 ribu per dua kemasan itu ludes hanya dalam hitungan jam.

Pantauan Rasel di Lapangan Sekundang Setungguan. Warga sudah memadati lokasi sejak pukul 07.00 WIB, warga yang datang dari berbagai desa di BS rela antre dan bersabar untuk mendapatkan minyak dengan harga murah tersebut.

“Kalau saya, sudah sejak pukul 06.30 WIB tadi datang ke sini. Sengaja datang lebih dulu agar tidak terlambat antre minyak,” ujar Sanuiba (52), warga Kelurahan Pasar Bawah Kecamatan Pasar Manna.

Diungkapkannya, tidak ada persiapan khusus yang dibawa saat mengantre. Karena panitia penyelenggara tidak menyebutkan ada syarat tertentu. Bahkan uang yang dibawa hanya cukup membeli sesuai jatah, Rp 25 ribu untuk dua kemasan minyak goreng merek Siip.

“Cuman uang pecahan Rp 25 ribu inilah. Bawa keranjangpun kami takut, siapa tahu nanti dikira ingin menimbun minyak. Padahal hanya untuk kebutuhan rumah tangga,” ungkap Sunaiba.

Namun hingga pukul 09.30 WIB, operasi pasar yang rencananya dibuka pukul 08.00 WIB itu belum juga dilaksanakan. Pasalnya pasokan minyak dari PT. Wilmar Group itu belum terlihat tiba di Lapangan Sekundang Setungguan.

Massapun semakin gerah dan rishi. Beberapa emak-emak ada yang nekat naik ke atas podium tempat para panitia penyalur minyak goreng berada. Akan tetapi mereka dihalau oleh petugas keamanan, tim satgas penanggulangan covid-19 pun turun tangan untuk mendinginkan situasi agar tidak menimbulkan kerumunan yang tidak bisa dicegah.

“Mohon sabar dulu ibu-ibu, sebentar lagi minyaknya akan tiba. Kami jamin semuanya dapat bu,” sahut salah seorang petugas keamanan di lokasi. Meski demikian, kesabaran warga kembali buyar ketika petugas meminta agar massa membentuk dua baris berbanjar ke belakang. Ada beberapa yang menolak ikut berbaris, karena merasa lebih dulu hadir dan akan merugikan dirinya jika barisannya diatur ulang.

“Kalau harus berbaris, kenapa tiduk dibilang dari tadi pak. Ini kami sudah menunggu lama dan keringatan di sini. Anak-anak kami belum dijemput, kamipun belum masak untuk keluarga demi minyak ini,” kata seorang wanita yang ucapannya langsung disambut sorakan “betul” oleh massa.

Bahkan di tengah himpitan baris-berbaris tersebut, ada seorang warga yang jatuh pingsan. Korban pun langsung dievakuasi petugas ke pinggir lapangan untuk diberikan pertolongan. Sementara antre migor tetap berlanjut dengan suasana semakin memanas.

“Tolonglah pak, ini sudah pukul 10.00 WIB, mana minyak yang dijanjikan. Katanya dibagi pukul 08.00 WIB. Jangan bohongi rakyat pak, tolong pemerintah daerah harus adil,” kata Nengsih (35) warga Kecamatan Pasar Manna.

Setelah menunggu lama, akhirnya sekitar pukul 10.45 WIB, satu truk migor dengan pengawalan ketat aparat keamanan tiba di lokasi. Massapun bersorak gembira dan mencoba langsung mendekat ke lokasi pendistribusian minyak.

Namun upaya mereka langsung diantisipasi oleh petugas dengan membentuk pagar betis. “Sabar bu, kalau ibu-ibu barisnya rapi, maka pembagian minyak cepat dilakukan. Kalau ibu-ibu kacau begini, lebih baik tidak dibagi minyaknya bu,” ujar Babinsa Kelurahan Pasar Manna, Serka Wakimin.

Upaya tersebut sempat berhasil dilakukan. Semua warga mengambil barisan masing-masing seraya mengacungkan uang pecahan Rp 25 ribu. Semua berteriak “ayo keluarkan semua minyak gorengnya dan jangan ada yang ditimbun”.

Dus per dus minyak goreng ditempatkan di depan massa, petugas dengan sabar memberikan dua kemasan kepada warga. “Silahkan diambil minyaknya bu dan uangnya letakkan ke dalam kardus. Jangan ada yang ‘cikil’ (curang) ya,” ujar Kepala Dinas Perindagkop-UM BS, Ferry Kusnadi.

Setelah lebih kurang 1,5 jam pendistribusian, akhirnya stok minyak goreng menipis. Tadinya per orang warga diberikan masing-masing dua kemasan minyak goreng. Tapi panitia akhirnya hanya memberikan masing-masing satu kemasan.

Massapun langsung protes dan ngotot tetap ingin dapat jatah dua liter. “Kenapa bagian kami dikurangi pak, ini tidak adil. Jelas-jelas kami sudah lama ngantre minyak sambil gendong anak kecil seperti ini pak,” kata Yunita (38) warga Padang Pematang.

Meski demikian, panitia tetap hanya membagikan minyak goreng dengan kemasan satu liter untuk masyarakat. Tujuannya agar semua warga yang hadir dapat kebagian. Meski demikian, pada akhirnya stok pun ludes dan tetap banyak warga yang tidak dapat jatah. Wargapun protes dan menginginkan agar dalam waktu dekat kembali digelar operasi pasar.

“Pokoknya kami minta pemerintah adakan kembali operasi pasar ini, jika tidak kami akan demo. Karena minyak goreng ini masuk kebutuhan utama dalam rumah tangga,” pungkas sebagian besar massa yang kesal tidak kebagian migor murah.

Suasana berbeda ditampakkan warga di Kecamatan Pino Raya. Meski sebagian warga sudah datang sejak subuh demi mendapatkan barisan paling awal, antrean tetap terlihat rapi. Warga berbaris satu per satu menuju tempat panitia. Namun lagi-lagi pasokan yang dibatasi membuat tidak semua warga mendapatkan jatah minyak goreng tersebut. (**)

Sumber: