BINTUHAN - Kabupaten Kaur dilanda wabah penyakit ngorok yang menyerang ternak sapi dan kerbau. Dalam waktu satu bulan terakhir, tercatat 131 ekor ternak mati akibat penyakit ini.
Penyebaran penyakit ini cukup cepat dan telah menyebar di beberapa kecamatan, termasuk Tanjung Kemuning, Pagulir, dan Luas.
"Penyakit ngorok kembali mengganas, satu bulan terakhir ada 131 ternak yang mengidap. Tersebar di 3 kecamatan se Kabupaten Kaur," kata Kabid Peternakan Hengki Tomi, SE. Kamis 5 Februari 2026.
Penyakit ngorok ini disebabkan oleh virus yang mudah menyebar, terutama pada ternak yang belum divaksinasi. Kecamatan Tanjung Kemuning menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, dengan 83 ekor ternak yang mati. Sementara itu, Pagulir dan Luas masing-masing memiliki 6 ekor dan 42 ekor ternak yang mati.
BACA JUGA:OJK dan Pemprov Kolaborasi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lewat UMKM
BACA JUGA:Ingat! Perusahaan Harus Berkontribusi Untuk Daerah!
"Virus ini cukup mudah menyebar, laporan yang masuk ke kita juga cukup terlambat. Jadi penanganan yang kita lakukan baru dilakukan sekarang," ujar Hengki Tomi.
Dinas Pertanian Kabupaten Kaur telah melakukan upaya penanganan, namun masih diperlukan kerja sama dari masyarakat untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Masyarakat diharapkan untuk segera melaporkan jika ada ternak yang sakit, agar dapat dilakukan penanganan yang cepat dan tepat.
"Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan jika ada ternak yang sakit, agar kita dapat melakukan penanganan yang cepat dan tepat," kata Hengki Tomi.
BACA JUGA:SIWO PWI Award Bukan Sekadar Piala, Ini Pesan Penting di Balik HPN 2026 Banten
BACA JUGA:Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027
Wabah ngorok ini telah menyebabkan kerugian besar bagi peternak di Kabupaten Kaur. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanganan yang lebih efektif untuk mengatasi penyakit ini.
"Kami akan terus melakukan upaya penanganan dan pencegahan, agar penyakit ngorok ini dapat segera diatasi," tutup Hengki Tomi.(jul)