Kampung Mati di Ponorogo Ini Sudah Ditinggalkan Warga, Hanya Janda Tua yang Tersisa

Kampung Mati di Ponorogo Ini Sudah Ditinggalkan Warga, Hanya Janda Tua yang Tersisa

Kampung Mati di Ponorogo Ini Sudah Ditinggalkan Warga, Hanya Janda Tua yang Tersisa-tangkapan layar YT jejak richard-raselnews.com

RASELNEWS.COM - Di Desa Sidoarjo terdapat sebuah perkampungan yang kini sepi, menjadi sebuah kampung mati yang ditinggalkan warganya.

Kawasan ini terletak di lereng pegunungan kapur dan sangat kering, terutama saat musim kemarau tiba. Meskipun mayoritas warga telah meninggalkan perkampungan ini untuk mencari tempat yang lebih layak, ada satu rumah yang masih bertahan sendirian.

BACA JUGA:Kisah Burung Hudhud, Sahabat Nabi Sulaiman yang Dilarang Dibunuh

Dikutip dari kanal YouTube Jejak Richard, kampung ini terletak di perbukitan dengan akses jalan yang sulit dan jauh dari perkampungan lainnya. Seiring waktu, satu per satu warga pindah meninggalkan kampung ini.

Secara administratif, kampung yang sekarang sepi ini termasuk dalam Dukuh Mbobo, Desa Sidoarjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Menurut Lasiran, seorang warga eks kampung mati, penduduknya telah pindah ke daerah timur sekitar tahun 2020-an.

BACA JUGA:Viral, Kisah Wanita Hamil yang Kehilangan Janin Usai Mengantar Seorang Nenek

Dulu, kawasan perkampungan ini dihuni oleh sekitar 85 rumah lebih. Namun, saat ini hanya satu rumah yang masih berdiri kokoh. Rumah ini dihuni oleh dua orang perempuan tua kakak beradik, yang dikenal sebagai Mbah Situm dan Mbah Pipit.

Kehidupan kedua perempuan tua ini terbilang sangat sederhana, mereka tinggal sendirian di kampung yang sunyi ini. Warga sekitar sudah berusaha membantu mereka untuk pindah ke tempat yang lebih baik, namun Mbah Situm dan Mbah Pipit memilih tetap tinggal di rumah yang telah ditinggalkan oleh warganya.

BACA JUGA:Sahabat Rasulullah yang Tidak Pernah Miskin, Abdurahman Bin Auf Sang Dermawan, Berikut Kisahnya

“Ya, kami tinggal berdua saja. Warga lainnya sudah tidak ada lagi. Dulu, di sini ada banyak rumah,” ujar Mbah Situm.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kedua perempuan tua ini memiliki lahan sempit yang ditanami pohon ketela.

Selain itu, mereka juga mengandalkan hasil panen buah asem yang dijual untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, meskipun hasilnya tidak seberapa. (red)

Sumber: