MacBook Neo: Ketika Chip iPhone Masuk ke Laptop, Seberapa Mengancam Windows?
MacBook Neo: Ketika Chip iPhone Masuk ke Laptop, Seberapa Mengancam Windows?-istimewa-dokumen
RASELNEWS.COM - Dalam beberapa tahun terakhir, publik sudah terbiasa melihat lini iPad Pro dan iPad Air mengadopsi chip seri M yang sebelumnya identik dengan MacBook. Namun, bagaimana jika pendekatannya dibalik "MacBook" justru menggunakan chip dari iPhone, lalu ditawarkan dengan harga lebih terjangkau? Apakah strategi ini cukup untuk menekan dominasi laptop Windows di kelas menengah?
Berikut ulasan lengkapnya.
Desain: Tetap Premium, Meski Fitur Dipangkas
Secara tampilan, perangkat ini masih sangat "Apple". Namun di saat yang sama, terasa ada beberapa kompromi yang membuatnya sedikit berbeda dari MacBook pada umumnya.
BACA JUGA:Laptop AI Makin Terjangkau: Review Axioo Hype AI5, Performa Kencang di Harga Bersahabat
Beberapa fitur yang absen antara lain:
Keyboard tanpa backlit
Tidak adanya port Thunderbolt
Trackpad kembali ke mekanisme klik biasa (tanpa Force Touch)
Tanpa Touch ID
Bezel layar lebih tebal
Meski demikian, secara keseluruhan perangkat ini masih layak disebut sebagai "MacBook Air versi Lite". Kualitas konstruksi tetap menjadi keunggulan utama. Desain unibody aluminium khas Apple terasa solid dan premium, bahkan dibandingkan banyak laptop Windows di kisaran harga Rp20 jutaan sekalipun.
Apple tampaknya belajar dari kegagalan pendekatan material seperti pada iPhone 5C. Karena itu, meski varian warna dibuat lebih playful (pink, citrus, biru tua, dan silver), build quality tetap dipertahankan.
BACA JUGA:Lenovo ThinkPad X1 2-in-1 Gen 10: Laptop Bisnis Premium untuk Mobilitas Tinggi dan Keamanan Maksimal
Layar: Cukup untuk Kebutuhan Harian
MacBook Neo menggunakan panel Liquid Retina IPS. Memang belum mendukung teknologi mini-LED, OLED, True Tone, maupun cakupan warna DCI-P3 penuh seperti seri Air dan Pro.
Namun demikian:
Sudah mendukung 100% sRGB
Cukup untuk editing foto dan video ringan
Lapisan glossy membuat tampilan terlihat tajam
Sebagai perbandingan, dengan selisih harga yang tidak terlalu jauh, varian MacBook Air M2 sudah menawarkan fitur layar yang lebih unggul. Namun, bezel tebal pada Neo juga membawa satu keuntungan: tidak adanya notch kamera.
BACA JUGA:Rekomendasi Laptop AI PC Paling Worth It di 2026 Ini Panduan Lengkap Memilih Sesuai Kebutuhan
Audio dan Webcam
Kualitas webcam dan mikrofon tergolong standar. Tidak ada fitur canggih seperti Center Stage.
Sebaliknya, sektor audio cukup mengesankan:
Speaker stereo tetap jernih dan lantang
Posisi speaker di samping membuat suara tidak mudah teredam
Kualitas vokal dan mid tergolong unggul di kelasnya
Meski bass tidak terlalu kuat, performanya masih lebih baik dibanding banyak laptop Windows di kisaran Rp10 jutaan.
BACA JUGA:Ini Cara Mengetahui Laptop dengan Spesifikasi Terbaik
Port dan Konektivitas: Area yang Paling Terasa Dipangkas
MacBook Neo hadir dengan kompromi cukup signifikan di sektor port:
Tidak ada MagSafe
Dua port USB-C tanpa Thunderbolt
Salah satu port hanya mendukung USB 2.0
Tidak mendukung output multi-monitor 4K 60Hz
Untuk penggunaan kasual, hal ini masih bisa ditoleransi. Namun jelas merupakan penurunan dibandingkan MacBook Air yang sudah mendukung Thunderbolt.
BACA JUGA:Panduan Lengkap Memilih Laptop untuk Editing Video dan Desain, Jangan Salah Beli
Performa: Chip iPhone, Hasil Mengejutkan
Perangkat ini ditenagai chip A18 Pro, yang berasal dari iPhone. Secara teori, ekspektasi performanya tidak terlalu tinggi. Namun hasilnya justru cukup mengejutkan.
Untuk penggunaan sehari-hari:
Multitasking ringan berjalan lancar
Browsing, streaming, dan editing ringan tanpa kendala
Untuk workload lebih berat:
Export video 4K 10 menit lebih cepat dibanding beberapa laptop Windows di kisaran Rp9-11 jutaan
Optimasi macOS terbukti sangat efektif
Meski pada benchmark sintetis chip ini masih di bawah seri M, dalam praktik nyata performanya tetap kompetitif.
BACA JUGA:Acer TravelMate TMP214-56-G2, Laptop Bisnis Ringan dengan Fokus Keamanan dan Efisiensi, Ini Spesifikasinya!
Namun:
Playback editing 4K di Premiere Pro masih kurang mulus
Gaming berat seperti Cyberpunk hanya playable di setting rendah
Terjadi throttling pada beban tinggi
Dengan RAM 8GB, performa masih terbatas. Jika ditingkatkan ke 16GB dan ditambah sistem pendingin aktif, potensinya bisa lebih maksimal.
Penyimpanan dan Baterai
Kecepatan SSD tidak setinggi MacBook lain, masih setara PCIe Gen 3 atau bahkan mendekati UFS pada smartphone.
BACA JUGA:Asus ProArt x GoPro Edition: Laptop Tipis Super Kencang untuk Kreator dan Petualang
Untuk daya tahan baterai:
Streaming YouTube: ±12 jam
Editing ringan: sekitar 6 jam
Gaming/render:±3 jam
Angka ini masih lebih baik dibanding banyak laptop Windows berbasis x86 di harga serupa, meski tetap kalah dari MacBook Air M2 yang bisa mencapai 14-15 jam.
Charging
Adaptor bawaan hanya 20W, cukup untuk iPhone atau iPad, tetapi kurang ideal untuk laptop. Pengisian daya tetap bisa dilakukan, namun tidak optimal untuk penggunaan intensif.
Posisi di Pasar: Menarik, Tapi Terjepit
Jika dijual di kisaran Rp9 jutaan (setara $599), MacBook Neo berpotensi menjadi opsi menarik untuk:
Pelajar dan mahasiswa
Pengguna kasual
Mereka yang sudah berada dalam ekosistem Apple
Namun, tantangan terbesarnya justru datang dari internal Apple sendiri.
Dengan selisih harga kurang dari Rp1 juta, MacBook Air M2 menawarkan:
Layar lebih baik
Thunderbolt & MagSafe
Baterai lebih besar
Keyboard backlit
Touch ID
Trackpad haptic
Speaker lebih unggul
SSD lebih cepat
Dalam kondisi ini, MacBook Air tetap menjadi pilihan paling rasional.
BACA JUGA:Tablet Lama, Rasa Laptop Modern: Xiaomi Pad 5 Masih Layak di 2026 Berkat Dual Boot Windows-Android
Kesimpulan
MacBook Neo membuktikan bahwa chip smartphone pun mampu menjalankan laptop secara kompete, bahkan dalam beberapa skenario mengungguli laptop Windows di kelas harga serupa.
Namun, keberhasilannya tidak sepenuhnya ditentukan oleh performa. Posisi harga dan diferensiasi produk menjadi faktor krusial.
Bagi industri Windows, kehadiran perangkat seperti ini bisa menjadi sinyal untuk berbenah, terutama di segmen harga Rp10 jutaan yang kini semakin kompetitif.
Pada akhirnya, pilihan kembali pada kebutuhan pengguna. Namun satu hal jelas: eksperimen Apple ini membuka arah baru dalam evolusi laptop mainstream.(*)
Sumber:


