Wahai Bunda, Anak Gemuk Itu Bukan Berarti Lucu, Justru Berisiko

Wahai Bunda, Anak Gemuk Itu Bukan Berarti Lucu, Justru Berisiko

Anak Gemuk Itu Bukan Berarti Lucu, Justru Berisiko -istimewa-freepik.com

RASELNEWS.COM - Kita sering merasa senang saat melihat anak makan banyak dan terlihat berisi. Namun, tahukah Anda, makan berlebih yang tidak sesuai kebutuhan justru dapat menimbulkan masalah kesehatan?

Menurut laporan Global Nutrition Report 2014, Indonesia masuk dalam 17 negara yang mengalami tiga masalah gizi sekaligus yakni stunting (pendek), wasting (kurus), dan obesitas.

BACA JUGA:Waspada! Banyak Penyakit Mengintai Anak dengan Obesitas,Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sementara itu, riset Kesehatan Dasar mencatat bahwa delapan dari setiap seratus anak di Indonesia mengalami obesitas.

Lalu, apa sebenarnya obesitas itu? Obesitas berasal dari kata Latin obesitas, yang berarti "akibat makan berlebih".

Menurut WHO, obesitas adalah kondisi penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Obesitas bisa dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak.

BACA JUGA:Viral! Tidak Ada Ranjang Pasien Yang Muat, Pria Obesitas Dibuatkan Ranjang Khusus di RSCM

Pada anak, obesitas bisa terjadi sejak usia balita hingga remaja, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara energi yang masuk melalui makanan dan energi yang keluar melalui aktivitas fisik.

Beberapa faktor dapat mempengaruhi terjadinya obesitas pada anak. Faktor pertama adalah genetik. Di mana anak yang orang tuanya obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami hal yang sama.

Tidak hanya faktor genetik, pola makan yang tidak sehat dan lingkungan yang mendukung pola hidup obesitas juga dapat berkontribusi.

BACA JUGA:Terhitung 28 November 2024, Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Gunakan Media Sosial!

Kemudian, ada faktor berat badan saat lahir. Anak yang lahir dengan berat badan lebih dari 4000 gram berisiko lebih tinggi mengalami obesitas di masa kanak-kanak.

Faktor lain yang berperan adalah pola makan yang tinggi lemak, kalori, dan minuman manis, serta kurangnya konsumsi sayur dan buah.

Aktivitas fisik yang rendah, seperti jarang bermain di luar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget, juga dapat meningkatkan risiko obesitas.

BACA JUGA:Ibu Muda Harus Tahu! Ini Tanda-tanda Anak Mengalami Infeksi Saluran Kemih

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah anak kita mengalami obesitas? Salah satu cara adalah dengan menilai status gizi anak melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan.

Kemudian, kita bisa menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan rumus berat badan (kg) dibagi tinggi badan (meter) kuadrat.

Hasil IMT ini kemudian dipetakan pada kurva IMT menurut umur yang dikeluarkan oleh WHO. Jika IMT anak berada di atas persentil 95, maka anak tersebut tergolong obesitas.

BACA JUGA:Meski Murah, Ikan Ini Kaya akan Protein dan Omega-3! Bagus untuk Tumbuh Kembang Anak

Obesitas pada anak tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga mental. Anak yang obesitas berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti peningkatan kadar glukosa darah, hipertensi, pembesaran jantung, gangguan lemak darah, perlemakan hati, gangguan hormon, dan masalah kulit.

Selain itu, mereka juga dapat merasa tertekan secara mental, seperti merasa minder dan berisiko mengalami depresi, serta menjadi sasaran perlakuan negatif dari lingkungan sekitar.

Jika anak sudah mengalami obesitas, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mengembalikan berat badan mereka ke angka yang sehat.

BACA JUGA: Tips Agar Anak Mau Tidur Sendiri, Dan Usia Ideal Pisah Kamar!

Namun, penting untuk tidak sembarangan melakukan program diet. Orang tua disarankan berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter spesialis anak yang memiliki keahlian dalam nutrisi dan metabolik.

Prinsip utamanya adalah memperbaiki pola makan dengan mengurangi konsumsi makanan berlemak dan minuman manis, serta meningkatkan konsumsi sayuran dan buah.

Aktivitas fisik juga penting, terutama bagi anak usia sekolah, yang sebaiknya melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari, termasuk olahraga atau permainan yang terstruktur.

BACA JUGA:Orang Tua Wajib Tahu! Ini Dia Kiat Mengembangkan Kecerdasan Emosional pada Anak

Selain itu, membatasi waktu di depan layar, baik TV maupun gadget, menjadi langkah penting.

Penting bagi orang tua dan masyarakat untuk mengenali faktor-faktor risiko obesitas pada anak. Lebih baik mencegah obesitas daripada anak kita terlanjur mengalaminya. Ingat, anak gemuk bukan berarti lucu! (**)

Sumber: